Rabu, 08 Desember 2010

Sinopsis Marry Stayed Out All Night Episode 1 part 1

Upacara pernikahan dimulai. Saat mempelai pria dan wanita memasuki pelataran, seluruh undangan bertepuk tangan. Mempelai wanita terlihat anggun dan sangat cantik dengan gaun pengantin putih dan buket bunga cantik, ia melangkah ke pelataran tanpa menggunakan alas kaki. Sedangkan sang mempelai pria terlihat sangat tampan. Mae-Ri tersenyum senang, ia sangat bahagia.

Dua sahabat Mae-Ri melambaikan tangan ke arah Mae-Ri, Mae-ri tersenyum senang dan membalas melambaikan tangan.


Saat hendak mengucapkan janji pernikahan, tiba-tiba Ayah Mae-Ri datang dan berseru, "Hentikan! Pernikahan ini batal"
"Ayah?" Mae-Ri kaget.
"Apa yang ia bicarakan" seru para tamu undangan. "Apa yang sebenarnya terjadi?
Ayah Mae Ri datang dengan membawa Jung In, ia memaksakan untuk menyatukan tangan Mae Ri dan Jung In.
Mae Ri menolak,"Ayah, apa yang kau lakukan?"

Tangan Mae Ri dan Jung In saling menggenggam, Mae Ri mencoba melepaskan gengaman tangan itu tapi sulit.

Tiba-tiba pelataran menjadi suram dan berubah menjadi horor. Ayah Mae Ri dan Ayah Jung In berubah menjadi sangat menakutkan. Jung In bertingkah seperti robot, kepalanya memutar 180 derajat. Mae Ri ketakutan dan ia menjerit, "aaaaaaaa!!!"
Semua kembali ke keadaan normal, scene di atas seperti sebuah prolog dari suatu drama. ^ ^

Mae Ri mengarahkan para petugas pengangkut barang untuk berhati-hati membawa barang-barangnya.
"Tas-tas yang di ruangan kecil juga!" ungkap Mae Ri.
"Satu, dua, tiga! Hati-hati bagian atasnya." petugas mengangkat kulkas.
"Aigoo, ini lebih berat dari yang kita lihat. Sini, biar aku bantu membawakannya." Mae Ri ikut sibuk membantu petugas.


Semua perabotan rumah milik Mae Ri sudah dibawa oleh petugas lelang, Mae Ri duduk di atas sofa yang terdapat tanda penyitaan barang.
"Sofa ini juga?" ungkap salah satu petugas.
"Ah, ia." Mae Ri langsung bangkit dari duduknya.
"Angkat bagian pinggirnya." Petugas membawa sofa itu.


"Hati-hati, hati-hati." ungkap Mae Ri saat melihat sofanya dibawa ke truck. "Ahjusshi, untuk barang yang itu harganya lebih mahal dari kelihatannya. Itu mahal."
"Kerja yang baik, Ahjusshi. Semoga selamat sampai tujuan!" Mae Ri melambaikan tangan saat mobil pengangkut barang pergi menjauh.


Mae Ri menutup jendela. Ia masuk ke dalam ruangannya seraya mencopot kedua sarung tangannya.
Mae Ri melihat ke sekeliling, ruangan itu sudah tampak sangat kosong, tidak ada barang satu pun. Hanya ada foto keluarga yang tertempel di dinding.
Mae Ri duduk merenung, ia menghela nafas panjang, kemudian berhitung "1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Wow!!" Dalam hitungan ke sepuluh, Mae Ri bersorak. Aneh, biasanya orang yang habis kena sita pasti sedih, tapi Mae Ri.. hahaaa...


"Whoah, ini bagus, tempatnya menjadi sangat luas! Menyenangkan, aku bisa bermain bola di sini." Mae Ri berloncat-loncat kegirangan seraya berlari mengelilingi ruangan yang kosong itu.

Mae Ri keluar dari apartemennya, ia menuju rumah tetangganya. Mae Ri memencet bel, "Ahjumma! Ahjumma!"
"Huh?" sapa bibi dari dalam rumah, kemudian membukakan pintu. "Apakah mereka sudah selesai?"
"Iyah." jawab Mae Ry.
"Baiklah ini ambil." Bibi itu mengeluarkan sebuah koper dan televisi, titipan dari Mae Ry.
"Ah, terimakasih."

Mae Ri mengangka koper itu melalui tangga, dan ia terlihat sangat kesulitan mengangkat koper yang berat itu.
"Yang tertinggal hanya pakaian." ucap Mae Ri ketika membongkar isi koper besarnya.
Mae Ri mengambil buku kuliahnya, ia berkata "Kapan aku akan kembali kuliah? Dan aku sangat ingin hal itu.."
"Oh! Itu Seo-Joon! Wow, dia sangat cantik." ungkap Mae Ri saat melihat Seo Joon di TV. "Dia artis yang baik juga."


"Kapan aku bisa merapikan barang-barang ini? Sebaiknya aku makan sesuatu dulu." Mae Ri mengambil panci dari tas koper besarnya, kemudian ia pergi ke dapur.


Makanan masih tersisa di toples-toples, tapi mungkin itu sudah tidak layak dimakan karena Mae Ri tidak mengawetkannya di kulkas."Ini semua mungkin sudah kadaluarsa sekrang, Aku tidak punya kulkas."

"Tidak, ini tidak akan kadaluarsa." ungkap Mae Ri, ia mencampurkan semua makanan dalam satu tempat.
"good job." Mae Ri menikmati makanan itu dengan lahap sambil menonton TV. "Bisakah mereka melakukan hal itu? Hmm.. Ini enak sekali."
Tokyo, Japan.


Di sebuah ajang pencarian bakat. Jung In dan beberapa Juri lainnya sedang menilai penampilan finalis.
"Terimakasih semua, aku akan lebih bekerja keras untuk ke depannya nanti." ungkap salah satu.

"Tidak perlu, hal itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu bekerja lebih keras lagi." kata Ji San. Ji San tidak menyukai penampilan finalis tadi, penampilannya terlalu dibuat-buat.
"J-san, apa maksud perkataanmu?" Juri yang lain merasa tidak setuju dengan kata-kata Ji San.
"Tidak masalah seberapun dia bekerja keras, seorang yang memiliki talenta tidak akan melakukan hal itu." tambah Ji San.

Di ruang Presiden, Presiden yang juga merupakan ayah dari Jisan. Presiden sedang membenahi pedangnya dan para pegawainya datang melaporkan sesuatu.
"Presiden, maafkan aku. Semua sumber kita yang berada di korea sudah kami kerahkan. Tapi mereka belum dapat menemukan area kediamannya." Ungkap salah satu pegawai dengan sangat menyesal.
"Ini terlihat sangat sulit. " ungkap presiden.
"Maafkan aku, tolong ampuni kami. Kami pun sudah menghubungi rumah sakit yang berada di korea." lanjut pegawainya.

Ji San datang ke ruangan ayahnya. "Ayah, aku datang."
"Sudahkah kau membaca proposal bisnis?" tanya ayah jisan pada Ji san. "Memproduksi sebuah drama merupakan hal yang sangat beresiko."
"Jika hal itu berhasil, laba akan mengalir dengan sangat baik." sela Ji san.
"Tapi jika tidak, semuanya akan jatuh dan hilang dengan cepat. Aku tidak akan mengecewakanmu, ayah."



"Ada hal yang aku ingin katakan, aku akan ikut berinvestasi dalam hal ini jika kau memenuhi syarat dariku. Jika seorang pria ingin bekerja, pertama ia perlu mengangkat kepalanya. Dia harus melakukan hal itu untuk menjadi pria dewasa yang sempurna. " Presiden memberikan nasihat seraya menuliskan sesuatu, sebuah huruf kanji yang melambangkan apa yang baru saja ia katakan. "Hanya seorang pria yang memiliki keluarga.. Adalah seorang pria sejati. Mampu melaksanakan satu tugas besar."

coolnya oppaa... T.T

"Itu salah satu hal yang aku tidak dapat penuhi oleh diriku sendiri." kata Ji san.
"Jadi, itu adalah keinginanku untuk melihatmu menjadi orang besar dan hebat dalam melakukan bisnis."
"Aku mengerti, ayah." kata Ji san seraya mengangguk dengan patuh.

Terdengar suara pintu terbuka saat Mae Ri sedang menonton TV dengan sangat serius. Dengan bergegas Mae Ri menuju pintu,
"Siapa di sana? Siapa disana?!" Seseorang sudah membuka pintu itu, Mae Ri menarik dengan kuat pintu untuk menahan agar tidak bisa terbuka, "Siapa ini? Aku bilang, siapa ini?"
"Apakah itu ayah!" ternyata Ayah Mae Ri datang.


Ayah Mae Ri memakan makanan Mae Ri, dan ia hampir tersedak.
"Ayah, ini air. Air." Mae Ri membawakan minum. "Ayah. Ahh.. Kasian ayah."
"Mae-Ri" Ayah Mae Ri menepuk-nepuk dadanya, ia tersedak.
"Hmmm?"

"Aku sangat lelah, aku tidak bisa berdiri lebih lama lagi di sini." ucap ayah Mae Ri.
"Itulah kenapa kau harus menarik keluar dirimu sendiri secara bersamaan. Jangan memulai usaha itu lagi. Dan jangan mempercayai orang-orang seperti mereka karena kau hanya akan mendapatkan kebohongan dan tertipu seperti itu lagi." ungkap Mae Ri kesal.

"Mae-Ri Yah, apa yang harus ayahmu lakukan? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" keluh Ayah Mae Ri.
"Ya, sudah. Kita akan memulainya lagi dari awal." Mae Ri berkata meyakinkan. "Kita akan mengumpulkan banyak uang dan membayar semua hutang-hutang kita."
"Kau tau berapa jumlah keseluruhan hutang-hutang kita? paling tidak kita harus membayar 100.000.000. Kapan kita bisa membayar hutang sebanyak itu?" Kata ayah Mae Ri.
"Itu semua kesalahan, ayah!" seru Mae Ri. "Semuanya selalu berjalan dengan kacau karena kau hanya mencoba untuk menangani segalanya sekaligus!"

Tiba-tiba seseorang menggedor-gedor pintu dengan keras. Mae Ri dan ayahnya sangat kaget. Mereka tahu bahwa orang itu adalah para penagih hutang.
"Hey, Wi Dae-Han! Kau di rumah bukan? Nyalakan lampunya,, nyalakan lampunya!"
Mae Ri bergegas mematikan lampu kemudian ayahnya mematikan TV. Mereka menyelimuti diri mereka, berharap penagih hutang itu tidak mengetahui keberadaan mereka.

"Hey, Wi Dae Han! Kau di dalam, bukan?! Kapan kau akan mengembalikan uang kami? Hah? Kami tahu kau ada di dalam! Buka pintu! Buka pintu! Yaaah! Aku bilang, buka pintu! Hey!" teriak para penagih hutang itu.

Mae Ri memberanikan diri untuk menghadapi para penagih hutang itu, ia tidak tahan lagi mendengar kata-kata para penagih hutang itu.
Mae Ri membuka pintu, ia sengaja membiarkan rambut berantakan.
"Hey! Dimana ayahmu?" bentak para penagih hutang.
"Aku sangat lelah sekarang." kata Mae Ri. "Siapa kau?"
"Ayahmu, Wi Dae Han, melarikan diri dengan membawa uang kami." jawab mereka.
"Orang ini.. bukan ayahku." jawab Mae Ri.


"Apa? Hey, apa yang kau katakan? Huh?" para penagih utang tidak percaya dengan apa yang diucapkan Mae Ri.
"Ibuku menikahinya, tapi kami tidak ada hubungan darah lagi." ungkap Mae Ri.
"Apakah itu benar?"tanya penagih utang.
"Ya! Dan aku tumbuh dengan dipukuli oleh orang itu! Apa ini? Dan besok adalah hari dimana kita akan memperingati hari kematian ibumu. Ini sangat menjengkelkan. Kenapa dia harus selalu memukuliku kalau ia memang benar-benar ayahku?" jelas Mae Ri.
"Pria itu terlihat seperti seorang yang memiliki tipe yang lembut." kata para penagih utang yang mulai percaya dengan apa yang dikatakan Mae Ri.
"Dimana orang bodoh itu sekarang? Aku adalah korbannya! Dia membawa lari tabunganku. Aku orang yang ingin sekali memukulnya. Bekerja keraslah, dan jika kau berhasil menangkapnya katakan padaku." ungkap Mae Ri.
"Tentu saja, sepertinya kau sudah lelah dengan dirimu sendiri." kata para penagih hutang.
Mae Ri sukses membuat para penagih hutang itu pergi dan percaya pada semua kata-katanya. Ia kembali ke dalam rumah tanpa mengunci pintu.


"Ayah." panggil Mae Ri pelan.
"Apakah mereka sudah pergi?" tanya ayahnya.
"Yah!"
"Kerja bagus!"
Tapi ternyata para penagih hutang itu mendengarkan pembicaraan mereka.

"Aku tahu hal ini akan terjadi." ucap penagih hutang itu seraya mendobrak pintu.
Mae Ri segera menutup pintu dengan paksa dan menguncinya, ia panik. "Apa yang harus dilakukan? apa yang harus dilakukan?
"Kau tidak akan membuka pintu ini?!" kata para penagih hutang.
"Ahjussi, akankah kau membuka pintu ini jika kau jadi aku?!" ucap Mae Ri.
"Hey, kau tidak ingin pintu ini dibuka? Kau bodoh! Kau akan mati dalam sekali pukulan. Ayah dan anak itu terlihat di dalam! Yah! Buka pintu! " para penagih hutang berteriak-teriak di luar.

"Ayah, lewat sini. lewat sini..!" Mae Ri menarik ayahnya ke dekat jendela, ia mengarahkan pada ayahnya untuk segera turun dari jendela.
"Jalan ini?" ayah Mae Ri tampak ketakutan, ia takut ketinggian.
"Cepat.. cepat.. cepat!" suruh Mae Ri.
"Kau dapat melakukan hal ini, ayah. Tidak apa apa!" seru Mae Ri. "Jangan mempersulit masalah ini lagi, cepatlah! Kau dapat melakukannya ayah. Kau dapat melakukannya! Hati-hati, ayah. Hati-hati."

Ayah Mae Ri melewati jalan lain, para penagih hutang melihatnya. "Yah! Wi Dae Han!" para penagih hutang kembali mengejar ayah Mae Ri.
"Berhenti di sana, bodoh! Hei, bodoh! Berhenti. Yah, Wi Dae Han!"


Mae Ri masih murung karena keadaan ayahnya, ia tidak tahu apakah ayahnya tertangkap atau berhasil lolos. Saat Mae Ri menonton TV, handphonenya berdering. Teman lamanya menelpon.
"Oh, So Ra Yah. Sudah lama sekali. Aku tidak bisa keluar sekarang. Aku sedang menonton sebuah drama. Yeah. Benarkah? Apakah Ji Hye benar-benar mabuk?"

Mae Ri menjemput teman-temannya yang mabuk.
"Ini" teman Mae Ri memberikannya uang karena sudah menjemput mereka.
"Benar. Tidak perlu memanggil taksi." ucap Mae Ri.
"Yah, Wi Mae Ri, kau benar-benar telah berubah setelah setahun ini."

Mae Ri tengah mengendari mobil temannya, kedua temannya mabuk berat.
"Well, aku tidak memiliki pilihan." jawab Mae-Ry dengan semangat. Aku harus mengumpulkan banyak uang sekarang, jika aku ingin melanjutkan kuliahku tahun depan."
"Mae Ri, apakah kau akan berhenti bersama kami karena kau tidak ingin menghabiskan uangmu?" tanya sahabat Mae Ry.


"Sebenarnya karena aku tidak ingin mendengar hal itu jadi aku tidak akan pergi." jawab Mae-Ri.
"Benar, tapi ini waktu yang sebentar semenjak kita bersama-sama lagi seperti ini, jadi ayo kita bersenang-senang, huh?" ajak sahabat Mae Ri yang lain.
"Kau tidak memiliki cukup waktu untuk bersenang-senang akhir-akhir ini."
"Okay!" Seru Mae Ry. "Mulai aku mengambil pekerjaan menjadi supir kalian, aku akan pergi dengan kalian, teman-teman."
"Hey, tapi kau tidak dapat minum-minum sejak kau menjadi supir seperti ini." kata sahabat Mae Ri mengingatkan.


"Jangan khawatir, ngomong-ngomong kemana lagi kita akan pergi?" tanya Mae Ri.
"Bagaimana kalau kita pergi ke hongdae?" usul sahabat Mae Ri.
"Ok, let's go!"
"Let's go to Hongdae.. Hongdae!" Seru Mae Ri dengan mempercepat mobil yang dikemudinya.
"Okay! Hongdae!"
Mobil yang dikendarai Mae Ri melaju cepat.


Mobil masuk ke dalam gang yang penuh dengan kerumunan orang-orang yang hilir mudik. Mobil melaju pelan.
"Aku hanya melihat kafe-kafe sekitar sini. Dimana kafe itu?" Mae Ri mulai bingung dengan arah jalan. "Hey, Aku tidak terlalu kenal dengan daerah sekitar sini, kemana arah kita?"
"Kami juga tidak tahu, tetap jalan berkeliling saja, Mae Ri." ucap salah satu teman Mae Ri. Kedua temannya sedang mabuk berat. "Tetaplah jalan sampai kita menemukan tempat yang bagus."


Mae Ri berteriak. "Apa aku menabrak sesuatu?"
Kedua teman Mae Ri panik. "Mae-Ry! Mae-Ry!"
Mae Ri keluar dari mobil untuk melihat apakah ia menabrak seseorang?
"Apa yang akan kita lakukan?"  Mae Ri panik, ia menggigit jari-jarinya. "Kita menabrak seseorang."
Mu Gyul terlihat tidak sadarkan diri.


"Aaa! Apa yang harus kita lakukan?!!" bukan hanya Mae Ri yang panik tapi teman-temannya juga.
"Permisi. Permisi.." Mae Ri menghampiri Mu Gyul. "Sadarlah. Bangunlah! Apa yang harus aku lakukan?"
Mu Gyul sadar.

"Oh, gosh! kau berdarah! Apa yang harus dilakukan?!" Mae Ri panik melihat darah di tangan Mu Gyul. "Apa kau benar-benar baik-baik saja? Benarkah?"
Mu Gyul menjilat tangannya yang berdarah, ia melakukan hal itu persis seperti anak kucing "Aku katakan, aku baik-baik saja."
"Ahh, aku telat." Mu Gyul bangkit.
"Kau benar baik-baik saja kan?" kata Mae Ri memastikan lagi.
Mu Gyul tidak menghiraukan Mae Ri, ia hanya pergi menjauh.

"Mae-Ri Yah, apa yang baru saja dia katakan?" teman-teman Mae Ri baru berani keluar dari mobil setelah Mu Gyul pergi.
"Dia bilang, dia baik-baik saja." jawab Mae Ri.
"itu melegakan." jawab teman Mae Ri.
"Hey, siapa orang itu? Laki-laki tunawisma?" tanya teman Mae Ri.
"Huh?"

Mu Gyul melihat ke arah Mae Ri.
"Whoaah, dia tampan juga! Setangkai bunga laki-laki tunawisma dari Hongdae!" sahabat Mae Ri terpesona.
"Dia bilang dia tidak apa-apa, jadi dia memang tidak apa-apa, kan?" kata Mae Ri, ia masih merasa bersalah.
"Hey.. Hey.." sahabat Mae Ri ingat sesuatu."...Dia mirip seperti yang ada di piringan kasetku?"

"apa?"
"Look..Look! Dia benar-benar mirip. Lihat! Hey, dia mirip seperti seorang penipu!" sahabat Mae Ri panik. "Apa yang harus kita lakukan jika dia pura-pura merasa baikan, dan dia akan datang kembali untuk meminta uang ganti rugi kepadaku? Bukankah itu artinya, kita akan dituduh tabrak lari?"


Mendengar hal itu, Mae Ri bertambah panik.
"Apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita lakukan?" mata Mae Ri berkaca-kaca.
"Hey, Mae Ri yang menyetir." kata salah satu sahabat Mae Ri.


"Itu artinya aku yang harus membayar denda?" ujar Mae Ri.
"Oh, Mae-Ri, apa yang akan kau lakukan?" kata teman Mae Ri. "Apa yang harus kita lakukan?"

"Hey, tunggu,, tunggu sebentar." panggil Mae Ri ke arah Mu Gyul yang sudah menjauh.
Mae Ri mencoba mengejar Mu Gyul di tengah kerumunan orang-orang yang hilir mudik. "Permisi. Permisi."
"Kemana dia pergi?" Oh, tunggu." hampir saja, Mae Ri kehilangan jejak Mu Gyul.

"Permisi. Aku hanya ingin tahu apakah kau benar-benar baik-baik saja! Permisi!" Mary sampai di satu gang. "Oh! Kemana dia pergi?"
"Apakah dia ke sini? Kemana pria itu pergi?" Mae Ri masuk ke sebuah tempat pertunjukkan. "Permisi. Maaf. Permisi. Permisi!"

Akhirnya Mae Ri masuk ke dalam ruang pertunjukkan, ia melihat Mu Gyul dan bandnya.
"Dia sangat keren." Mae Ri berdecak kagum melihat Mu Gyul beroker ria.

"Hey disana! Hey kau! Apakah kau baik-baik saja? Hey! Hey kau! kau benar baik-baik saja?" Mae Ri berloncat-loncat berharap Mu Gyul akan melihatnya.
Saat Mae Ri meloncat, tanpa sengaja ia menginjak sepatu pengunjung di sebelahnya.
"Maafkan aku. Maafkan aku!" Mae Ri melihat ke arah pengunjung itu dan ia sepertinya mengenalinya. "Apakah kau Seo Joon, seorang artis? Kebetulan sekali."
"Ah, aku pengunjung, maaf." Seo Joon tidak ingin diketahui siapapun, maka ia berbohong. Seo Joon segera pergi dari ruangan itu.
"Itu memang benar-benar Seo Joon." kata Mae Ri.


Mae Ri kembali mengalihkan perhatiannya pada Mu Gyul. "Dia memang terlihat baik-baik saja. Dia benar-benar seorang roker. Melegakan."
Telepon Mae Ri berdering, ia menerima telepon dari temannya, "Oh So Ra yah. Aku tidak bisa mendengarmu, di sini sangat berisik! Aku tidak tahu dimana aku. Yeah, dia memang benar-benar baik-baik saja, Kau tidak perlu khawatir! Yeah, Okay!" Mae Ri menutup teleponnya dan ia memutuskan untuk meninggalkan tempat pertunjukkan itu.


Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. "Tidak, jika aku pergi sekarang, mungkin saja ia bisa melaporkan kejadian kecelakaan itu."
Mae Ri kemudian memotret Mu Gyul dengan handphonenya.
"Assa!" sorak Mae Ri melihat foto Mu Gyul.
"Terlalu kencang. Ahh.. kencang! Kencang sekali!" ucap Mae Ri berkomentar pada musiknya.

0 komentar:

Poskan Komentar

Sinopsis Marry Stayed Out All Night Episode 1 part 1

0 komentar
Upacara pernikahan dimulai. Saat mempelai pria dan wanita memasuki pelataran, seluruh undangan bertepuk tangan. Mempelai wanita terlihat anggun dan sangat cantik dengan gaun pengantin putih dan buket bunga cantik, ia melangkah ke pelataran tanpa menggunakan alas kaki. Sedangkan sang mempelai pria terlihat sangat tampan. Mae-Ri tersenyum senang, ia sangat bahagia.

Dua sahabat Mae-Ri melambaikan tangan ke arah Mae-Ri, Mae-ri tersenyum senang dan membalas melambaikan tangan.


Saat hendak mengucapkan janji pernikahan, tiba-tiba Ayah Mae-Ri datang dan berseru, "Hentikan! Pernikahan ini batal"
"Ayah?" Mae-Ri kaget.
"Apa yang ia bicarakan" seru para tamu undangan. "Apa yang sebenarnya terjadi?
Ayah Mae Ri datang dengan membawa Jung In, ia memaksakan untuk menyatukan tangan Mae Ri dan Jung In.
Mae Ri menolak,"Ayah, apa yang kau lakukan?"

Tangan Mae Ri dan Jung In saling menggenggam, Mae Ri mencoba melepaskan gengaman tangan itu tapi sulit.

Tiba-tiba pelataran menjadi suram dan berubah menjadi horor. Ayah Mae Ri dan Ayah Jung In berubah menjadi sangat menakutkan. Jung In bertingkah seperti robot, kepalanya memutar 180 derajat. Mae Ri ketakutan dan ia menjerit, "aaaaaaaa!!!"
Semua kembali ke keadaan normal, scene di atas seperti sebuah prolog dari suatu drama. ^ ^

Mae Ri mengarahkan para petugas pengangkut barang untuk berhati-hati membawa barang-barangnya.
"Tas-tas yang di ruangan kecil juga!" ungkap Mae Ri.
"Satu, dua, tiga! Hati-hati bagian atasnya." petugas mengangkat kulkas.
"Aigoo, ini lebih berat dari yang kita lihat. Sini, biar aku bantu membawakannya." Mae Ri ikut sibuk membantu petugas.


Semua perabotan rumah milik Mae Ri sudah dibawa oleh petugas lelang, Mae Ri duduk di atas sofa yang terdapat tanda penyitaan barang.
"Sofa ini juga?" ungkap salah satu petugas.
"Ah, ia." Mae Ri langsung bangkit dari duduknya.
"Angkat bagian pinggirnya." Petugas membawa sofa itu.


"Hati-hati, hati-hati." ungkap Mae Ri saat melihat sofanya dibawa ke truck. "Ahjusshi, untuk barang yang itu harganya lebih mahal dari kelihatannya. Itu mahal."
"Kerja yang baik, Ahjusshi. Semoga selamat sampai tujuan!" Mae Ri melambaikan tangan saat mobil pengangkut barang pergi menjauh.


Mae Ri menutup jendela. Ia masuk ke dalam ruangannya seraya mencopot kedua sarung tangannya.
Mae Ri melihat ke sekeliling, ruangan itu sudah tampak sangat kosong, tidak ada barang satu pun. Hanya ada foto keluarga yang tertempel di dinding.
Mae Ri duduk merenung, ia menghela nafas panjang, kemudian berhitung "1, 2, 3, 4, 5, 6, 7, 8, 9, 10. Wow!!" Dalam hitungan ke sepuluh, Mae Ri bersorak. Aneh, biasanya orang yang habis kena sita pasti sedih, tapi Mae Ri.. hahaaa...


"Whoah, ini bagus, tempatnya menjadi sangat luas! Menyenangkan, aku bisa bermain bola di sini." Mae Ri berloncat-loncat kegirangan seraya berlari mengelilingi ruangan yang kosong itu.

Mae Ri keluar dari apartemennya, ia menuju rumah tetangganya. Mae Ri memencet bel, "Ahjumma! Ahjumma!"
"Huh?" sapa bibi dari dalam rumah, kemudian membukakan pintu. "Apakah mereka sudah selesai?"
"Iyah." jawab Mae Ry.
"Baiklah ini ambil." Bibi itu mengeluarkan sebuah koper dan televisi, titipan dari Mae Ry.
"Ah, terimakasih."

Mae Ri mengangka koper itu melalui tangga, dan ia terlihat sangat kesulitan mengangkat koper yang berat itu.
"Yang tertinggal hanya pakaian." ucap Mae Ri ketika membongkar isi koper besarnya.
Mae Ri mengambil buku kuliahnya, ia berkata "Kapan aku akan kembali kuliah? Dan aku sangat ingin hal itu.."
"Oh! Itu Seo-Joon! Wow, dia sangat cantik." ungkap Mae Ri saat melihat Seo Joon di TV. "Dia artis yang baik juga."


"Kapan aku bisa merapikan barang-barang ini? Sebaiknya aku makan sesuatu dulu." Mae Ri mengambil panci dari tas koper besarnya, kemudian ia pergi ke dapur.


Makanan masih tersisa di toples-toples, tapi mungkin itu sudah tidak layak dimakan karena Mae Ri tidak mengawetkannya di kulkas."Ini semua mungkin sudah kadaluarsa sekrang, Aku tidak punya kulkas."

"Tidak, ini tidak akan kadaluarsa." ungkap Mae Ri, ia mencampurkan semua makanan dalam satu tempat.
"good job." Mae Ri menikmati makanan itu dengan lahap sambil menonton TV. "Bisakah mereka melakukan hal itu? Hmm.. Ini enak sekali."
Tokyo, Japan.


Di sebuah ajang pencarian bakat. Jung In dan beberapa Juri lainnya sedang menilai penampilan finalis.
"Terimakasih semua, aku akan lebih bekerja keras untuk ke depannya nanti." ungkap salah satu.

"Tidak perlu, hal itu sudah lebih dari cukup. Tidak perlu bekerja lebih keras lagi." kata Ji San. Ji San tidak menyukai penampilan finalis tadi, penampilannya terlalu dibuat-buat.
"J-san, apa maksud perkataanmu?" Juri yang lain merasa tidak setuju dengan kata-kata Ji San.
"Tidak masalah seberapun dia bekerja keras, seorang yang memiliki talenta tidak akan melakukan hal itu." tambah Ji San.

Di ruang Presiden, Presiden yang juga merupakan ayah dari Jisan. Presiden sedang membenahi pedangnya dan para pegawainya datang melaporkan sesuatu.
"Presiden, maafkan aku. Semua sumber kita yang berada di korea sudah kami kerahkan. Tapi mereka belum dapat menemukan area kediamannya." Ungkap salah satu pegawai dengan sangat menyesal.
"Ini terlihat sangat sulit. " ungkap presiden.
"Maafkan aku, tolong ampuni kami. Kami pun sudah menghubungi rumah sakit yang berada di korea." lanjut pegawainya.

Ji San datang ke ruangan ayahnya. "Ayah, aku datang."
"Sudahkah kau membaca proposal bisnis?" tanya ayah jisan pada Ji san. "Memproduksi sebuah drama merupakan hal yang sangat beresiko."
"Jika hal itu berhasil, laba akan mengalir dengan sangat baik." sela Ji san.
"Tapi jika tidak, semuanya akan jatuh dan hilang dengan cepat. Aku tidak akan mengecewakanmu, ayah."



"Ada hal yang aku ingin katakan, aku akan ikut berinvestasi dalam hal ini jika kau memenuhi syarat dariku. Jika seorang pria ingin bekerja, pertama ia perlu mengangkat kepalanya. Dia harus melakukan hal itu untuk menjadi pria dewasa yang sempurna. " Presiden memberikan nasihat seraya menuliskan sesuatu, sebuah huruf kanji yang melambangkan apa yang baru saja ia katakan. "Hanya seorang pria yang memiliki keluarga.. Adalah seorang pria sejati. Mampu melaksanakan satu tugas besar."

coolnya oppaa... T.T

"Itu salah satu hal yang aku tidak dapat penuhi oleh diriku sendiri." kata Ji san.
"Jadi, itu adalah keinginanku untuk melihatmu menjadi orang besar dan hebat dalam melakukan bisnis."
"Aku mengerti, ayah." kata Ji san seraya mengangguk dengan patuh.

Terdengar suara pintu terbuka saat Mae Ri sedang menonton TV dengan sangat serius. Dengan bergegas Mae Ri menuju pintu,
"Siapa di sana? Siapa disana?!" Seseorang sudah membuka pintu itu, Mae Ri menarik dengan kuat pintu untuk menahan agar tidak bisa terbuka, "Siapa ini? Aku bilang, siapa ini?"
"Apakah itu ayah!" ternyata Ayah Mae Ri datang.


Ayah Mae Ri memakan makanan Mae Ri, dan ia hampir tersedak.
"Ayah, ini air. Air." Mae Ri membawakan minum. "Ayah. Ahh.. Kasian ayah."
"Mae-Ri" Ayah Mae Ri menepuk-nepuk dadanya, ia tersedak.
"Hmmm?"

"Aku sangat lelah, aku tidak bisa berdiri lebih lama lagi di sini." ucap ayah Mae Ri.
"Itulah kenapa kau harus menarik keluar dirimu sendiri secara bersamaan. Jangan memulai usaha itu lagi. Dan jangan mempercayai orang-orang seperti mereka karena kau hanya akan mendapatkan kebohongan dan tertipu seperti itu lagi." ungkap Mae Ri kesal.

"Mae-Ri Yah, apa yang harus ayahmu lakukan? Apa yang harus aku lakukan sekarang?" keluh Ayah Mae Ri.
"Ya, sudah. Kita akan memulainya lagi dari awal." Mae Ri berkata meyakinkan. "Kita akan mengumpulkan banyak uang dan membayar semua hutang-hutang kita."
"Kau tau berapa jumlah keseluruhan hutang-hutang kita? paling tidak kita harus membayar 100.000.000. Kapan kita bisa membayar hutang sebanyak itu?" Kata ayah Mae Ri.
"Itu semua kesalahan, ayah!" seru Mae Ri. "Semuanya selalu berjalan dengan kacau karena kau hanya mencoba untuk menangani segalanya sekaligus!"

Tiba-tiba seseorang menggedor-gedor pintu dengan keras. Mae Ri dan ayahnya sangat kaget. Mereka tahu bahwa orang itu adalah para penagih hutang.
"Hey, Wi Dae-Han! Kau di rumah bukan? Nyalakan lampunya,, nyalakan lampunya!"
Mae Ri bergegas mematikan lampu kemudian ayahnya mematikan TV. Mereka menyelimuti diri mereka, berharap penagih hutang itu tidak mengetahui keberadaan mereka.

"Hey, Wi Dae Han! Kau di dalam, bukan?! Kapan kau akan mengembalikan uang kami? Hah? Kami tahu kau ada di dalam! Buka pintu! Buka pintu! Yaaah! Aku bilang, buka pintu! Hey!" teriak para penagih hutang itu.

Mae Ri memberanikan diri untuk menghadapi para penagih hutang itu, ia tidak tahan lagi mendengar kata-kata para penagih hutang itu.
Mae Ri membuka pintu, ia sengaja membiarkan rambut berantakan.
"Hey! Dimana ayahmu?" bentak para penagih hutang.
"Aku sangat lelah sekarang." kata Mae Ri. "Siapa kau?"
"Ayahmu, Wi Dae Han, melarikan diri dengan membawa uang kami." jawab mereka.
"Orang ini.. bukan ayahku." jawab Mae Ri.


"Apa? Hey, apa yang kau katakan? Huh?" para penagih utang tidak percaya dengan apa yang diucapkan Mae Ri.
"Ibuku menikahinya, tapi kami tidak ada hubungan darah lagi." ungkap Mae Ri.
"Apakah itu benar?"tanya penagih utang.
"Ya! Dan aku tumbuh dengan dipukuli oleh orang itu! Apa ini? Dan besok adalah hari dimana kita akan memperingati hari kematian ibumu. Ini sangat menjengkelkan. Kenapa dia harus selalu memukuliku kalau ia memang benar-benar ayahku?" jelas Mae Ri.
"Pria itu terlihat seperti seorang yang memiliki tipe yang lembut." kata para penagih utang yang mulai percaya dengan apa yang dikatakan Mae Ri.
"Dimana orang bodoh itu sekarang? Aku adalah korbannya! Dia membawa lari tabunganku. Aku orang yang ingin sekali memukulnya. Bekerja keraslah, dan jika kau berhasil menangkapnya katakan padaku." ungkap Mae Ri.
"Tentu saja, sepertinya kau sudah lelah dengan dirimu sendiri." kata para penagih hutang.
Mae Ri sukses membuat para penagih hutang itu pergi dan percaya pada semua kata-katanya. Ia kembali ke dalam rumah tanpa mengunci pintu.


"Ayah." panggil Mae Ri pelan.
"Apakah mereka sudah pergi?" tanya ayahnya.
"Yah!"
"Kerja bagus!"
Tapi ternyata para penagih hutang itu mendengarkan pembicaraan mereka.

"Aku tahu hal ini akan terjadi." ucap penagih hutang itu seraya mendobrak pintu.
Mae Ri segera menutup pintu dengan paksa dan menguncinya, ia panik. "Apa yang harus dilakukan? apa yang harus dilakukan?
"Kau tidak akan membuka pintu ini?!" kata para penagih hutang.
"Ahjussi, akankah kau membuka pintu ini jika kau jadi aku?!" ucap Mae Ri.
"Hey, kau tidak ingin pintu ini dibuka? Kau bodoh! Kau akan mati dalam sekali pukulan. Ayah dan anak itu terlihat di dalam! Yah! Buka pintu! " para penagih hutang berteriak-teriak di luar.

"Ayah, lewat sini. lewat sini..!" Mae Ri menarik ayahnya ke dekat jendela, ia mengarahkan pada ayahnya untuk segera turun dari jendela.
"Jalan ini?" ayah Mae Ri tampak ketakutan, ia takut ketinggian.
"Cepat.. cepat.. cepat!" suruh Mae Ri.
"Kau dapat melakukan hal ini, ayah. Tidak apa apa!" seru Mae Ri. "Jangan mempersulit masalah ini lagi, cepatlah! Kau dapat melakukannya ayah. Kau dapat melakukannya! Hati-hati, ayah. Hati-hati."

Ayah Mae Ri melewati jalan lain, para penagih hutang melihatnya. "Yah! Wi Dae Han!" para penagih hutang kembali mengejar ayah Mae Ri.
"Berhenti di sana, bodoh! Hei, bodoh! Berhenti. Yah, Wi Dae Han!"


Mae Ri masih murung karena keadaan ayahnya, ia tidak tahu apakah ayahnya tertangkap atau berhasil lolos. Saat Mae Ri menonton TV, handphonenya berdering. Teman lamanya menelpon.
"Oh, So Ra Yah. Sudah lama sekali. Aku tidak bisa keluar sekarang. Aku sedang menonton sebuah drama. Yeah. Benarkah? Apakah Ji Hye benar-benar mabuk?"

Mae Ri menjemput teman-temannya yang mabuk.
"Ini" teman Mae Ri memberikannya uang karena sudah menjemput mereka.
"Benar. Tidak perlu memanggil taksi." ucap Mae Ri.
"Yah, Wi Mae Ri, kau benar-benar telah berubah setelah setahun ini."

Mae Ri tengah mengendari mobil temannya, kedua temannya mabuk berat.
"Well, aku tidak memiliki pilihan." jawab Mae-Ry dengan semangat. Aku harus mengumpulkan banyak uang sekarang, jika aku ingin melanjutkan kuliahku tahun depan."
"Mae Ri, apakah kau akan berhenti bersama kami karena kau tidak ingin menghabiskan uangmu?" tanya sahabat Mae Ry.


"Sebenarnya karena aku tidak ingin mendengar hal itu jadi aku tidak akan pergi." jawab Mae-Ri.
"Benar, tapi ini waktu yang sebentar semenjak kita bersama-sama lagi seperti ini, jadi ayo kita bersenang-senang, huh?" ajak sahabat Mae Ri yang lain.
"Kau tidak memiliki cukup waktu untuk bersenang-senang akhir-akhir ini."
"Okay!" Seru Mae Ry. "Mulai aku mengambil pekerjaan menjadi supir kalian, aku akan pergi dengan kalian, teman-teman."
"Hey, tapi kau tidak dapat minum-minum sejak kau menjadi supir seperti ini." kata sahabat Mae Ri mengingatkan.


"Jangan khawatir, ngomong-ngomong kemana lagi kita akan pergi?" tanya Mae Ri.
"Bagaimana kalau kita pergi ke hongdae?" usul sahabat Mae Ri.
"Ok, let's go!"
"Let's go to Hongdae.. Hongdae!" Seru Mae Ri dengan mempercepat mobil yang dikemudinya.
"Okay! Hongdae!"
Mobil yang dikendarai Mae Ri melaju cepat.


Mobil masuk ke dalam gang yang penuh dengan kerumunan orang-orang yang hilir mudik. Mobil melaju pelan.
"Aku hanya melihat kafe-kafe sekitar sini. Dimana kafe itu?" Mae Ri mulai bingung dengan arah jalan. "Hey, Aku tidak terlalu kenal dengan daerah sekitar sini, kemana arah kita?"
"Kami juga tidak tahu, tetap jalan berkeliling saja, Mae Ri." ucap salah satu teman Mae Ri. Kedua temannya sedang mabuk berat. "Tetaplah jalan sampai kita menemukan tempat yang bagus."


Mae Ri berteriak. "Apa aku menabrak sesuatu?"
Kedua teman Mae Ri panik. "Mae-Ry! Mae-Ry!"
Mae Ri keluar dari mobil untuk melihat apakah ia menabrak seseorang?
"Apa yang akan kita lakukan?"  Mae Ri panik, ia menggigit jari-jarinya. "Kita menabrak seseorang."
Mu Gyul terlihat tidak sadarkan diri.


"Aaa! Apa yang harus kita lakukan?!!" bukan hanya Mae Ri yang panik tapi teman-temannya juga.
"Permisi. Permisi.." Mae Ri menghampiri Mu Gyul. "Sadarlah. Bangunlah! Apa yang harus aku lakukan?"
Mu Gyul sadar.

"Oh, gosh! kau berdarah! Apa yang harus dilakukan?!" Mae Ri panik melihat darah di tangan Mu Gyul. "Apa kau benar-benar baik-baik saja? Benarkah?"
Mu Gyul menjilat tangannya yang berdarah, ia melakukan hal itu persis seperti anak kucing "Aku katakan, aku baik-baik saja."
"Ahh, aku telat." Mu Gyul bangkit.
"Kau benar baik-baik saja kan?" kata Mae Ri memastikan lagi.
Mu Gyul tidak menghiraukan Mae Ri, ia hanya pergi menjauh.

"Mae-Ri Yah, apa yang baru saja dia katakan?" teman-teman Mae Ri baru berani keluar dari mobil setelah Mu Gyul pergi.
"Dia bilang, dia baik-baik saja." jawab Mae Ri.
"itu melegakan." jawab teman Mae Ri.
"Hey, siapa orang itu? Laki-laki tunawisma?" tanya teman Mae Ri.
"Huh?"

Mu Gyul melihat ke arah Mae Ri.
"Whoaah, dia tampan juga! Setangkai bunga laki-laki tunawisma dari Hongdae!" sahabat Mae Ri terpesona.
"Dia bilang dia tidak apa-apa, jadi dia memang tidak apa-apa, kan?" kata Mae Ri, ia masih merasa bersalah.
"Hey.. Hey.." sahabat Mae Ri ingat sesuatu."...Dia mirip seperti yang ada di piringan kasetku?"

"apa?"
"Look..Look! Dia benar-benar mirip. Lihat! Hey, dia mirip seperti seorang penipu!" sahabat Mae Ri panik. "Apa yang harus kita lakukan jika dia pura-pura merasa baikan, dan dia akan datang kembali untuk meminta uang ganti rugi kepadaku? Bukankah itu artinya, kita akan dituduh tabrak lari?"


Mendengar hal itu, Mae Ri bertambah panik.
"Apa yang harus kita lakukan? Apa yang harus kita lakukan?" mata Mae Ri berkaca-kaca.
"Hey, Mae Ri yang menyetir." kata salah satu sahabat Mae Ri.


"Itu artinya aku yang harus membayar denda?" ujar Mae Ri.
"Oh, Mae-Ri, apa yang akan kau lakukan?" kata teman Mae Ri. "Apa yang harus kita lakukan?"

"Hey, tunggu,, tunggu sebentar." panggil Mae Ri ke arah Mu Gyul yang sudah menjauh.
Mae Ri mencoba mengejar Mu Gyul di tengah kerumunan orang-orang yang hilir mudik. "Permisi. Permisi."
"Kemana dia pergi?" Oh, tunggu." hampir saja, Mae Ri kehilangan jejak Mu Gyul.

"Permisi. Aku hanya ingin tahu apakah kau benar-benar baik-baik saja! Permisi!" Mary sampai di satu gang. "Oh! Kemana dia pergi?"
"Apakah dia ke sini? Kemana pria itu pergi?" Mae Ri masuk ke sebuah tempat pertunjukkan. "Permisi. Maaf. Permisi. Permisi!"

Akhirnya Mae Ri masuk ke dalam ruang pertunjukkan, ia melihat Mu Gyul dan bandnya.
"Dia sangat keren." Mae Ri berdecak kagum melihat Mu Gyul beroker ria.

"Hey disana! Hey kau! Apakah kau baik-baik saja? Hey! Hey kau! kau benar baik-baik saja?" Mae Ri berloncat-loncat berharap Mu Gyul akan melihatnya.
Saat Mae Ri meloncat, tanpa sengaja ia menginjak sepatu pengunjung di sebelahnya.
"Maafkan aku. Maafkan aku!" Mae Ri melihat ke arah pengunjung itu dan ia sepertinya mengenalinya. "Apakah kau Seo Joon, seorang artis? Kebetulan sekali."
"Ah, aku pengunjung, maaf." Seo Joon tidak ingin diketahui siapapun, maka ia berbohong. Seo Joon segera pergi dari ruangan itu.
"Itu memang benar-benar Seo Joon." kata Mae Ri.


Mae Ri kembali mengalihkan perhatiannya pada Mu Gyul. "Dia memang terlihat baik-baik saja. Dia benar-benar seorang roker. Melegakan."
Telepon Mae Ri berdering, ia menerima telepon dari temannya, "Oh So Ra yah. Aku tidak bisa mendengarmu, di sini sangat berisik! Aku tidak tahu dimana aku. Yeah, dia memang benar-benar baik-baik saja, Kau tidak perlu khawatir! Yeah, Okay!" Mae Ri menutup teleponnya dan ia memutuskan untuk meninggalkan tempat pertunjukkan itu.


Tapi kemudian ia mengurungkan niatnya. "Tidak, jika aku pergi sekarang, mungkin saja ia bisa melaporkan kejadian kecelakaan itu."
Mae Ri kemudian memotret Mu Gyul dengan handphonenya.
"Assa!" sorak Mae Ri melihat foto Mu Gyul.
"Terlalu kencang. Ahh.. kencang! Kencang sekali!" ucap Mae Ri berkomentar pada musiknya.

0 komentar:

Poskan Komentar

visitor

 

KoReAn FaNz CoMmuNiTy | Creative Commons Attribution- Noncommercial License | Dandy Dandilion Designed by Simply Fabulous Blogger Templates